Sabtu, 07 Juni 2008

Bukti Bahwa Kita Pernah Ada

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Sekalipun tidak pernah melihat dinosuarus secara langsung, anda percaya bahwa mahluk itu memang pernah menghuni bumi kita. Apakah anda juga percaya bahwa mahluk-mahluk dalam film fiksi ilmiah seperti naga penyembur api dan kuda unicorn benar-benar pernah ada dibumi ini? Saya yakin anda sependapat bahwa itu hanyalah mahluk khayalan belaka. Anda tidak pernah melihat langsung dinosaurus. Tidak juga unicorn atau naga. Tetapi, mengapa anda yakin bahwa dinosaurus pernah ada sedangkan yang lainnya sekedar dongeng saja? Itu karena kita semua dapat menemukan jejak dinosaurus berupa fosil-fosil yang ditinggalkannya. Naga dan Unicorn? Tidak. Kesimpulannya tentu saja; Ada bukti bahwa dinosaurus pernah ada. Lantas, bagaimana dengan kita?

Alkisah, Tuhan mengijinkan setiap orang beriman yang sudah meninggal untuk berkunjung ke dunia. Hanya satu kali. Hanya satu hari. Mereka boleh menggunakan kesempatan itu untuk melakukan apa saja didunia ini. Biasanya mereka berkunjung menemui sanak famili dan orang-orang terkasihnya, untuk sekedar melakukan satu hal yang ingin dilakukannya terakhir kali. Namun, mereka tidak bisa berkomunikasi kecuali dengan anak-anak kecil. Karena kebanyakan orang dewasa tidak bisa merasakan kehadirannya. Salah satu dari orang beriman itu keluar dari pintu sorga, lalu terbang menuju rumah dimana orang-orang yang dikasihinya tinggal. Sesampai didepan rumah, dia mengetuk pintu sambil berucap salam.

”Bunda, ada tamu.” Kata cucunya yang lucu. Bundanya bilang “Mana?” Lalu dia kembali kedapur. Sekali lagi orang beriman itu mengucap salam. “Ayah, ada tamu.” Kata sang cucu lagi. Ayahnya tersenyum. Lalu melanjutkan membaca koran. Orang itu sekali lagi mengucap salam. Dan kali ini sang cucu membalas salamnya sambil berlari kearah pintu. “Kakek!?” katanya berseru seraya memeluk kakeknya yang sudah sangat lamaaaaaaaa sekali tidak bertemu. Mereka berpelukan.

“Aku kangen sama kakek.....,” kata anak itu. Tiba-tiba saja dari sudut mata sang kakek mengalir air mata sebening kaca. Kembali terbayang saat-saat dimana dia menggendong cucunya ketika masih bayi. Membimbingnya untuk belajar berjalan. Mengajarinya naik sepeda. Menemaninya bermain ditaman. Rasanya, dia masih ingin menjalani semuanya itu. Tetapi, waktunya hanya satu hari saja. Sejenak, dia berpikir tentang apa yang akan dilakukannya bersama sang cucu tercinta. Dia ingin itu menjadi saat paling istimewa bagi cucunya. Dia ingin itu menjadi bekal paling berarti bagi kehidupannya kelak. Dan dia ingin, kesempatan terakhir yang dimilikinya menjadi warisan paling bermakna darinya.

“Cucuku,” katanya dengan penuh kasih. ”Kakek ingin mengajakmu berjalan-jalan.”
”Naik sepeda seperti dulu, Kek?” Mata cucunya berbinar-binar.
”Tidak,” kata sang kakek.”Kita akan terbang....” lanjutnya kemudian.

Sang cucu berteriak kegirangan. ”Horeeeee aku akan terbang. Aku akan terbang!” serunya sambil berlari-lari dari ruang tamu. Lalu ke dapur. Ke halaman belakang. Kemana-mana. ”Aku akan terbang bersama kakek,” katanya lagi. Bunda dan Ayahnya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.”Ayah, Bunda, aku mau terbang bersama kakek ya?” suara renyahnya memenuhi udara. Sekali lagi Ayah dan Bunda saling bepandangan. Lalu mereka tersenyum. Dan; ”Iya, sayang. Titip salam sama kakek ya...” kata Bunda sambil mencubit pipinya yang tembem. Anak itu lari kehalaman depan. Memeluk kakeknya. Lalu mereka terbang.

Dari ketinggian, mereka melihat gedung menjulang. Gedung yang indah. Lagi megah. ”Lihatlah gedung itu Cucuku,” katanya. Sang cucu melihatnya dengan kagum. Ribuan orang keluar masuk gedung itu, sambil sesekali mereka berdecak kagum atas keindahannya. ”Dulu, kakek ikut membangun gedung itu,” katanya. Dan benar, diantara dinding yang kokoh anak itu melihat sidik jari kakeknya. Lalu mereka kembali terbang.

Tiba-tiba, mereka melihat sebuah taman yang indah. ”Lihatlah taman itu Cucuku,” kata sang Kakek. Sang cucu melihatnya dengan takjub. Ribuan orang asyik bermain ditaman itu. ”Dulu, kakek ikut menanam pepohonan disana,” katanya. Dan benar, ketika mereka melintas diatas taman itu, semua pohon yang dulu ditanam sang kakek merunduk penuh hormat. Lalu, mereka kembali terbang.

Dari atas sana, mereka melihat jembatan panjang. Melintang diatas sungai yang lebar lagi dalam. ”Lihatlah jembatan itu Cucuku,” kata sang kakek. Ribuan kendaraan berlalu lalang diatasnya. ”Dulu Kakek ikut menancapkan tiangnya,” Dan benar, ketika mereka terbang diatasnya, tiang-tiang jembatan itu membungkuk khidmat. Lalu, mereka terbang kembali.

Sepanjang hari itu, sang kakek menunjukkan kepada cucunya semua hal yang sudah dibangunnya ketika dia masih hidup. Dan sang cucu begitu terkagum-kagum atas semua pencapaian yang sudah dibuat oleh kakeknya. Lalu dia berkata; ”Aku ingin seperti Kakek,” katanya.
”Oh, ya?” jawab sang Kakek.

”Kalau aku sudah menjadi kakek-kakek nanti,” kata anak itu, ”Aku mau membawa cucuku terbang.”
”Oh, ya?” kata sang kakek.

”Aku mau tunjukkan kepadanya semua yang pernah kubuat semasa hidupku.”
”Kamu akan membangun gedung-gedung seperti kakek?”
katanya.
”Tidak.” jawab sang cucu.
”Taman?”
”Tidak.”
”Jembatan?”
”Tidak.”

”Lantas, apa?”
”Aku mau membangun apa saja yang bisa membuktikan bahwa aku pernah ada.”
kata cucunya dengan mantap.

”Kakek belum mengerti apa yang kamu katakan, Cucuku.” kata sang kakek dengan penuh kebanggaan.
”Aku ingin agar semua orang bisa mengenang aku meskipun aku sudah meninggal kelak, Kek.”
”Oh, ya?”
”Iya.”
katanya. ”Seperti orang-orang yang saat ini mengagumi semua yang pernah kakek buat dimasa kakek hidup dulu.”

Kakeknya tersenyum bahagia. Bermanfaat sudah waktu satu hari yang Tuhan berikan kepadanya. Dihadapannya kini berdiri seorang anak kecil yang siap melakukan sesuatu dalam hidupnya. Sesuatu yang layak dikenang. Sesuatu yang patut dikagumi. Sesuatu yang pantas diingat. Sesuatu yang membuktikan bahwa dia pernah ada.

”Mari kita pulang Cucuku,” kata sang kakek. Lalu mereka kembali terbang.

Hari sudah malam ketika mereka tiba dirumah. Dan saat anak itu berada dihadapan Ayah dan Bunda, mereka seolah-olah terkejut karenanya. ”Darimana saja kamu, Nak?” kata mereka dengan cemas.

”Aku habis terbang bersama, Kakek.” kata anak itu.
”Jangan main-main, Nak.” kata mereka. ”Kamu tidak boleh lagi pergi seperti itu.”
Anak itu tersenyum. ”Baiklah, Bunda.” katanya. ”Tapi kalau aku sudah besar nanti,” lanjutnya. ”Aku akan membuat sesuatu yang menjadi bukti bahwa aku pernah ada.”

Ketika anak kecil itu tertidur pulas, Ayah dan Bunda memandang wajahnya yang bening dalam tidur penuh senyum. Ayah Bunda saling pandang, lalu mereka berkata;”Bukti bahwa kita pernah ada?” Ya. Bukti bahwa kita pernah ada.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Kakek masih sesekali datang melalui mimpi-mimpi saya. Dengan wajahnya yang teduh. Dan tutur katanya yang halus. Beliau memandang dari kejauhan, seolah-olah berbisik; ”bukti, bahwa kita pernah ada....”.

Copyright2008@Dadang Kadarusman

Tidak ada komentar: